Edyar Kades Pulau Seliu Berharap Tambak Udang Segera Beroperasi

0
165

Belitung, Muaraindonesia.com, –

Proses pembangunan tambak udang vaname di Desa Pulau Seliu, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung terhenti sementara. Pihak investor tengah mengurus perizinan dan menghitung ganti rugi tegakan mangrove di atas lahan yang telah dilakukan land clearing beberapa waktu lalu.

Kepala Desa (Kades) Pulau Seliu, Edyar berharap proyek pengembangan budidaya udang vaname di Desa Pulau Seliu segara dilanjutkan, dalam rangka membangun desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa pulau Seliu.

“Dikatakan salah satu tokoh nelayan ( Rahman) Kami menyadari desa kami tergolong desa yang ekonominya kurang baik sejak pandemi Covid-19 kemarin. Apalagi saat ini banyak nelayan mengeluhkan bahwa harga Kepiting rajungan dan udang sangat anjlok dari harga awal nya Rp 100.000/ Kg sekarang tinggal Rp 35.000 / kg, Kami bukannya anti dengan pemahaman orang lain namun saat yang kami fikirkan keberlangsungan hidup yang bertahan dalam situasi ini, dimana petisi cinta dan peduli dengan Seliu itu, dan dimana perwakilan Seliu yang duduk di Dewan, yang katanya sudah banyak berbuat untuk pulau Seliu, coba ini ditanggulangi masalah harga kepiting rajungan ungkap Rahman sebagai ketua kelompok Nelayan pulau Seliu, saat menerima bersilaturahmi Komandan Kodim 0414 Belitung, Letkol Inf Karuniawan Hanif Arridho di balai Desa Pulau Seliu, Sabtu 11 Mei 2024.

BACA JUGA  Perwabel Peringati HPN 2024 dan Ultah Ke-8 dengan Melakukan Bakti Sosial

Dikatakan Rahman, lalu ada investor Tambak Usang Vaname di Desa Pulau Seliu dan untuk mengembangkan perikanan dan budidaya udang dirasa cocok sekali sebagai Alternatif peningkatan ekonomi masyarakatnya dominan bekerja sebagai nelayan.

Namun saat land clearing, dikatakan di tengah lahan ada mangrove, berupa pohon nyere, gelam, truntung. Kami tidak paham kenapa itu jadi mangrove, tetapi ketika ada pemeriksaan dari pihak kehutanan, pohon-pohon itu masuk dalam 40 jenis mangrove,” kata Edyar.

Kemudian Edyar mengatakan ,Saat ini proyek tambak udang vaname di lahan 100 hektare ini terhenti, pihak perusahaan masih proses hitung ganti tegakan. Masuknya investasi tambak udang ini sudah menyerap tenaga kerja lokal 16 orang, namun kini tinggal penjaga malam saja yang masih bekerja.

“Perusahaan kemarin sempat bekerja sebulan saja, lalu banyak pro dan kontra di masyarakat dan aklhirnya terhenti. Kami berharap ini bisa lanjut lagi,” katanya.

Dikatakan Edyar, pemerintah desa tetap intens berkomunikasi dengan pihak perusahaan dan pihak perusahaan pun terus melaporkan progres perizinan dan sampai sekarang proses izin sudah sampai tahap 60 persen.

Desa Pulau Seliu terdiri dari dua dusun dengan luas wilayah 1.530 hektare, berpenduduk 1.021 jiwa 345 kepala keluarga (KK) ini selain dikonsep pengembangan wisata, juga pengembangan sektor kelautan dan budidaya perikanan.

BACA JUGA  TAARUF APA PACARAN

“Konsep pembangunan sektor pariwisata, sejak 2019 hingga 2024 ini Pemdes pulau Seliu telah membangun beberapa destinasi wisata baru dan menunjang UMKM serta banyak memberikan bantuan ke pelaku pariwisata,salah sebagai contoh Wisata Rawa purun. Namun saat pandemi Covid-19, destinasi wisata ini harus ditutup dan akhirnya tidak terawat karena tidak menghasilkan. Padahal pembangunan ini menghabiskan dana desa yang lumayan banyak,” kata Edyar.

Menurutnya, pasca pandemi pariwisata Desa Seliu tidak bisa memberdayakan masyarakat, maka pemerintah desa berinisiatif gembangkan ektor lainnya dan memploting 300 hektare lahan desa untuk pengembangan sektor perikanan dan budidaya.

Gayung bersambut, akhirnya ada investor yang masuk ke desa di usaha tambak udang vaname. Perusahaan segara melakukan pembebasan lahan masyarakat dan melakukan land clearing dengan mendatangkan lima excavator.

“Sosialisasi telah disampaikan pihak perusahan ke kami. Lalu kami buat MoU bahwa Pemdes akan menunjuk koperasi nelayan untuk mengelola IPAL perusahaan itu. Pihak perusahaan akan memberikan benih ikan bandeng untuk di budidayakan di IPAL. Hasilnya 100 persen dibagikan kepada masyarakat desa,” kata Edyar.

Tidak hanya tu, MoU terkait IPAL itu merupakan salah satu CSR dari pihak perusahaan, belum lagi sebanak 2,5 persen keuntungan perusahaan masuk kas desa untuk di manfaatkan pembangunan desa. Lalu ada program lainnya seperti rencana pengembangan keramba jaring apung, polanya bagi hasil.

BACA JUGA  RAIS MANTAPKAN IKUTI KONTESTASI BACAKADA DENGAN MENGAMBIL FORMULIR DI TIGA PARTAI POLITIK.

Pihak perusahaan memodali membangun keramba jaring apung dengan tenaga kerja msyarakat lokal Seliu dengan skema bagi hasil. Ini semua dilakukan dengan tujuan menumbuhkan ekonomi baru dan mempekerjakan masyarakat.

“Kami dengan semua masyaakat Desa Seliu mendukung investasi ini. Mudah-mudahan desa ini berkembang dan maju persat. Saya dengar pihak perusahaan juga akan membangun pelabuhan sendiri. Selain itu ada program hilirisasi, dimana perusahaan mengelola udang dan membangun pabrik makanan siap saji,”ujarnya.

Menurut Edyar, usulan pembangunan dalam skala prioritas Desa Seliu ke Pemda Belitung besar sekali. Anggaran pembangunan dermaga pengganti Teluk Gembira ke Tanjung Paku mencapai Rp108 miliar, anggaran pembangunan dermaga di Desa Seliu sekitar Rp30 miliar belum lagi peningkatan jalan lingkar dan peningkatan jalan utama Pulau Seliu sehingga di total untuk pembangunan sarana dan prasarana desa pulau Seliu hampir mencapai Rp300 miliar.

“Maka kita harus kompak, kuat, bila ada tantangan, kita tidak goyang karena ekonomi kita kuat. Mudah-mudahan PT KPN ini bisa cepat beroperasi lagi, kita bisa bekerja, CSR perusahana jalan dan program-program lain untuk membangun desa dan kesejahteran masyarakat desa,” pungkas Edyar. (WL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.