Nasibmu Yayasan Kemanusian : Sudah Membantu Manjaksingi, Terima Kasihpun Tidak

0
772

Jakarta, MuaraIndonesia.comIqri Sulizar (Komunitas Kritis Kebijakan Negeri)

Begitulah yang terjadi di negara Manjaksingi, dengan ibukota Atlantiko. Disini banyak berdiri yayasan-yayasan sosial kemanusiaan yang intens melayani dan memperhatikan kepentingan rakyat. Negara ini sudah ratusan juta penduduknya, tentu membutuhkan perhatian lebih di bidang kemanusian

Memang yayasan-yayasan sosial ini bukanlah pemilik harta yang mereka bagi-bagikan buat rakyat yang sedang tertimpa musibah, sedang butuh sarana air bersih, sedang ingin tempat ibadah yang lebih baik, ingin mencari bantuan biaya kesehatan anaknya, ingin sarana penerangan agar bisa berlajar dimalam hari, dll hajat sebagai manusia adanya.

Harta-harta tersebut didapat yayasan-yayasan sosial tersebut dengan mengumpulkan dana dari masyarakat dengan berbagai macam cara :

  1. Dengan membuat proposal door to door ke perusahaan dan masyarakat.
  2. Dengan cara kreatif memasarkan produk-produk yg hasilnya dijual ke masyarakat dengan aqad akan didonasikan.
  3. Dengan membranding kebutuhan masyarakat, mengemasnya dalam bentuk yang menggugah masyarakat dan menyebarkannya di sosial media dengan harapan ada yang tersentuh dan mau berdonasi. Karena manusia itu makhluk sosial dengan seperangkat naluri kemanusiaan. Apalagi masyarakat muslim dikenal kedermawanannya, karena syariat memerintahkan itu untuk bekal akhirat.
  4. dll silahkan isi sendiri
BACA JUGA  Diskominfo Pangkalpinang Menciptakan Aplikasi Layanan Masyarakat “SENYUM”

Pengurus yayasan-yayasan kemanusiaan itu tentu butuh dana operasional untuk beroperasi besarnya bervariasi, tergantung objek pekerjaan kemanusiaan yang sedang digarap

Yayasan Kemanusiaan Era Now VS Lembaga Sosial Jaman Islam

Lagi ramai pemberitaan di media Ngtempo di negara manjaksingi. Media ini super serius telanjangi pengurus sebuah yayasan sosial kemanusian XACT yang menggunakan dana donasi 13,7%, gaji ratusan juta ringgit, mobil bemo kelas atas.

Dia lupa meliput lembaga sejenis besutan lembaga dunia semacam UNICEF yang menyunat dana masyarakat hasil klencengan sampai 28%, atau lembaga sejenis dibarat.

Sebenarnya yayasan-yayasan sosial kemanusiaan jaman now berguru ke lembaga-lembaga sejenis rekannya di dunia barat ada unicef, charitywater, dll.

Ciri khas lembaga-lembaga sosial kemanusian di negara barat adalah mereka mengumpulkan dana masyarakat dan menyalurkannya ke yg membutuhkan dengan potongan dana operasional.

Pada titik ini terjadi perbedaan mendasar dengan perorangan atau lembaga-lembaga sosial kemanusian islam pada masa lalu.

BACA JUGA  Sekularisme, Kekuasaan Terpisah Dari Al-Quran

Pada era lalu di negara khilafah yang banyak melakukan kegiatan donasi adalah orang-orang kaya yang memang BERDUIT yang ingin hartanya menyelamatkan dirinya di akhirat. Sehingga tercatat dalam sejarah donasi wakaf sumur Ustman bin Affan hingga hari ini, donasi wakaf Al-Azhar hingga detik ini, dll

Memperpanjang Usia Negara Kapitalis Sekular

Menjamurnya yayasan-yayasan sosial di negara kapitalis termasuk manjaksingi adalah salah satu bentuk ketidakmampuan sistem kapitalis sekular untuk dalam melayani kesejahteraan rakyatnya.

Negara yang harusnya berfungsi melayani rakyat secara orang perorang, dipastikan hajat hidupnya, tidak bisa diakomodir oleh sistem sekular yang sedang berkuasa

Mengapa sebab ? Jawabnya singkat negara tidak punya dana yang cukup untuk melayani kepentingan rakyat.

Aset-aset negara dari yang remeh temeh hingga yang menguasai hajat orang banyak semacam air, bahan bakar, makanan dijual ke swasta. Istilah kerennya di liberalisasi. Hingga negara praktis hanya berharap dari beragam pajak, yang tragisnya makin naik dari waktu ke waktu.

Negara hanya menjadi regulator kepentingan kaum kapitalis yang semakin kaya dan memungut memuaskan diri dengan pajak untuk membiayai mayoritas rakyat dalam garis batas hidup.

BACA JUGA  Bahas Covid-19, KAHMI hadirkan Ilmuwan Internasional

Boro-boro punya dana lebih untuk melayani masalah kemanusiaan. Dan celakanya di negara manjaksingi dana pajak pun kadang tidak tepat sasaran alias masuk klenceng pribadi. Alhasil sebenarnya yayasan-yayasan sosial kemanusiaan itu justru menjadi harapan masyarakat untuk mendapat bantuan secepatnya.

Negara kapitalis sekular negara manjaksingi sebenarnya harus berterimakasih kepada yayasan-yayasan itu. Sudah dibantu pekerjaannya dengan cara-cara yang keren, tanpa harus berpikir capek siang dan malam. Kalaupun kemudian ada penyimpangan harusnya departemen sosial negara manjaksingi membinanya dengan baik, bukan malah membubarkannya.

Memang parah ya, sudah dibantu malah tidak terima kasih. Tanpa yayasan-yayasan kemanusian, saya yakin negara manjaksingi akan makin terpuruk.

Kedepan penduduk berharap peran negara semakin terdepan membantu kepentingan sosial kemasyarakatan, bila perlu semua negara yang melakukannya. Adapun yayasan-yayasan kemanusiaan hanya dalam tahap membantu bila diperlukan.

Wa allahu A’lam Bisshawab
Catatan Siang #309
Jakarta, 13 Juli 2022, 11:23

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.