Bubor Jawak Fosil Peradaban Dalam Wujud Kuliner

0
354

Tanjung Pandan, MuaraIndonesia.com, oleh: Adhywira Septiyasa – Bubor jawak, terbuat dari biji jawak, semacam juwawut yang biasa menjadi pakan burung berkicau. Hanya saja, biji juwawut berukuran 15 sampai 20 kali lebih besar dari ukuran biji jawak.

Dalam sistem pertanian belitong, jenis milet atau sorgum yang dalam bahasa ilmiahnya disebut sataria italica ini, ditanam sebagai pendamping tanaman padi di ladang.

Bertujuan untuk melindungi buah padi dari serangan hama burung. karena burung akan lebih suka memakan butiran jawak yang berukuran kecil, daripada memakan butiran padi yang besar.

Kalimat –ditanam sebagai pendamping tanaman padi- ini, sebenarnya memiliki arti yang sangat mendalam. kalimat yang terlihat biasa saja ini, ternyata sarat makna filosofis tentang ajaran “adiluhung” atas sikap hidup dalam menghadapi permusuhan.

BACA JUGA  Proses Penepungan Beras Merah Dan Beras Hitam

Bahwa: yang namanya musuh dalam wujud seperti burung, tidak perlu disikapi dengan bermusuhan. tidak perlu membasmi musuh. karena pada dasarnya manusia tidak punya hak membasmi atau memusnahkan makhluk lain. ini sebuah ajaran yang sangat luarbiasa.

Adhywira Septiyasa, Owner BellitongKite dan Iqri Sulizar (muaraindonesia.com)

Ketika hak hidup musuh, hak makan dan rezekinya diberikan (disediakan, dijamin), maka mereka tidak akan mengganggu hak-hak (padi) kita. artinya, ada ajaran tentang ADAB (tatacara yang baik) dalam berekologi, ber lingkungan dalam pertanian masyarakat belitong.

Adab tentang bagaimana mensikapi hama tanpa harus memusnahkan, adalah aturan utama dalam berekologi. Meskipun ketika itu, nenek moyang kita tidak mengenal istilah apa yang disebut dengan ekologi itu sendiri.

Selain itu, kalimat –ditanam sebagai pendamping tanaman padi– tersebut, juga menunjukkan adanya sikap adil dan keinginan berbagi yang kuat. adanya hasrat untuk memberi kepada sesama makhluk yang begitu kuat.

BACA JUGA  Gerai McDonald's Pangkalpinang Resmi Dibuka

Seakan mereka ingin mengatakan: bahwa berbagi itu adalah sikap yang baik. memberi itu tidak pernah akan mengurangi. jangankan kepada sesama manusia, kepada sesama makhluk pun, harus berbagi. harus bersikap adil kepada sesama. inilah sebuah ajaran.

“jika ingin memanen padi yang banyak, maka harus banyak juga berbagi (dengan menanam jawak)”, agar burung yang dianggap musuh, tetap tidak mengganggu tanaman padi karena memiliki makanan yang banyak.

Persoalannya kemudian adalah; bagaimana menyampaikan pesan, (dizaman belum adanya literasi itu), tentang ajaran yang adiluhung ini kepada generasi selanjutnya. Bahwa hidup ini harus BERBAGI.

Pemikiran tentang menanam jawak, tentunya tidak serta-merta muncul sebagai ide dan solusi dalam menghadapi hama burung. Tentu sebelumnya ada pengamatan yang mendalam tentang lingkungan (ekologi) serta pengetahuan tentang perilaku hewan. Meskipun zaman itu mereka tentunya bukanlah orang kuliahan 🤭

BACA JUGA  UNESCO Tetapkan Belitong Jadi Global Geopark

Dan tentunya, tidak cukup hanya sekedar pengetahuan berdasarkan pengamatan yang mereka miliki itu, yang menjadi dasar mereka mengatasi hama burung dengan menanam tanaman pendamping. JAWAK. Karena saat ini tidak sedikit yang memiliki pengetahuan yang luas, namun tidak memberikan solusi apa-apa terhadap lingkungan yang tak kalah penting adalah: kesadaran akan rasa cinta kepada sesama dalam kebersamaan. Rasa cinta inilah yang menjadi modal utama mereka.

Menjadi penguat dalam mengatasi hama burung bukan dengan cara yang buruk itu. namun dengan cinta. “Memiliki satu rasa satu makna dalam hidup kebersamaan dengan sesama makhluk di semesta raya ini”

Penyajian Bubor Jawak, dengan kopi hitam dan gula semut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.