Pandemi COVID-19 dan Renungan Makna Hidup

0
432

Bogor, MuaraIndonesia.com – Oleh: Iqri Sulizar (Aktivis Islam)

Pandemi COVID-19 belum kunjung berakhir, pemerintah Indonesia kembali melakukan pembatasan beraktifivitas masyarakat dengan mengakukan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diberlakukan sejak 3 Juli 2021.

Bahkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengakui virus corona varian delta sulit dikendalikan, hal ini disampaikan Luhut dalam konferensi pers secara virtual melalui YouTube resmi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI pada Kamis (15/7/2021).

Berita kemalangan, kesakitan dan kematian menjadi menu sehari-hari di sosial media (facebook, instagram, youtube, twitter), media berita nasional dan internasional baik online maupun offline, dan media berita telivisi.

Usaha-usaha membangkitkan keoptimisan masyarakat ternyata kalah banyak dibandingkan dengan berita-berita kesedihan yang masyarakat rasakan. Belum lagi upaya-upaya penanganan yang dilakukan ototitas yang berkuasa terkadang membuat rasa khawatir, seperti rumah sakit penuh, kelangkaan gas oksigen, video-video pelakuan aparat saat PPKM, dll.

BACA JUGA  Alumni IPB Serahkan Donasi 1,3 Milyar Rupiah Untuk Pengadaan Tabung Oksigen Bagi IPB University

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh seorang dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang terlanjur menyebar masif dan sulit untuk dikendalikan?

Mengembalikan Pola Pikir Mindset

Pola Pikir/Mindset adalah posisi atau pola pikir seseorang yang mempengaruhi pendekatan orang tersebut dalam menghadapi dan mengatasi suatu persoalan. Bagaimana pola pikir seorang muslim terhadap pandemi COVID-19 ini ?

Covid-19 adalah virus. Virus ini, sebagaimana virus yang lain, adalah makhluk yang Allah SWT ciptakan dengan memiliki khasiat tertentu. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh melalui dua lubang, hidung dan mulut, kemudian masuk dan bersarang di paru.

Serangan virus ini bisa menyebabkan pengentalan bahkan darah beku, yang mengakibatkan penderita kekurangan oksigen. Meski masing-masing penderita kondisi daya tahan tubuhnya bisa berbeda-beda. Karena itu, ada yang bisa sembuh, dan tidak jarang yang berakhir dengan kematian.

BACA JUGA  Tahapan Pilkada Kembali Digelar Juni 2020

Bagaimana kita mendudukkan masalah ini ? Dalam konteks qadha’ dan qadar, kita harus meyakini, bahwa qadha’ dan qadar, baik dan buruknya, dua-duanya berasal dari Allah SWT. Qadha’ adalah perbuatan yang menimpa kita, yang tidak bisa kita elakkan. Sedangkan qadar adalah khasiat yang diciptakan oleh Allah pada benda, termasuk virus.

Covid-19 dengan khasiatnya adalah bagian dari qadar yang Allah SWT ciptakan. Kita juga tahu, bagaimana dia masuk ke dalam tubuh kita? Melalui dua lubang hidung dan mulut.

Karena itu, Ikhtiar untuk menangkal atau menghindari masuknya virus ini di dalam tubuh kita adalah dengan cara mematuhi Protokol Kesehatan 5M (Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, serta Membatasi mobilisasi dan interaksi) untuk Cegah COVID-19 masuk ke dalam tubuh seperti yang sudah dikampanyekan pemerintah.

BACA JUGA  AWASI Maladministrasi tanpa tatap muka ditengah pandemi Covid-19.

Langkah-langkah lain yang perlu dilakukan adalah dengan vaksinasi, penguatan fisik dengan berolahraga rutin, menghindari gula atau konsumsi karbohodrat yang berlebihan. Dalam situasi yang serba amburadul, bahkan nyaris tidak ada yang bisa diharapkan, pola pikir diatas adalah penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.