CARUT MARUT DAN USAHA KERAS PUSKESMAS DALAM MEMBERIKAN PROMOSI KESEHATAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

0
176

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh: Ns. Kadek Dio Agus Bagiartana, S.Kep
Pembimbing: Dr. Sutantri, S.Kep., Ns., MSc., Ph.D

MuaraIndonesia. Com. Yogyakarta. Saat ini dunia sedang berperang melawan COVID-19 yang memporak porandakan segala lini kehidupan. Setiap negara berlomba-lomba untuk mengatasi penyebaran termasuk Indonesia.

Salah satu cara untuk menghadapi pandemi COVID-19 adalah dengan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan dan penanganan COVID-19 dari tingkat individu maupun komunitas.

Puskesmas sebagai Primary Health Care (PHC) merupakan layanan kesehatan pertama yang bertanggung jawab dalam membantu penanganan dan pengendalian pandemi COVID-19 di Indonesia.

Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo menekankan bahwa tindakan pencegahan yang paling efektif adalah unit masyarakat yang paling bawah yaitu gugus tugas di tingkat RT/RW yang ada di desa. Selain itu presiden juga menegaskan bahwa Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan di tingkat pertama harus diperkuat dan dioptimalkan dalam pelaksanaan layanan kesehatan (18 Mei 2020).

Berdasarkan Permenkes No. 43 tahun 2019, Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan UKM dan UKP tingkat pertama harus mengutamakan pada upaya promotif dan preventif penanggulangan Covid-19, melakukan penyuluhan edukasi, konseling, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pembudayaan PHBS-Aman Covid-19 di keluarga dan tatanan potensial. Penyuluhan yang dilakukan oleh puskesmas harus dapat memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat agar mampu menerapkan PHBS pencegahan dan pengendalian COVID-19.

BACA JUGA  PEDULI GEMPA SULAWESI BARAT, HIMA PAI BERSAMA HIMA TBI IAIN SAS BABEL ADAKAN PENGGALANGAN DANA

Upaya promosi kesehatan menjadi program utama Puskesmas dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat. Namun, dalam realisasinya mendapatkan banyak tantangan dan halangan. Hoax, misinformasi dan stigma terhadap orang yang terjangkit menjadi sebuah pekerjaan rumah besar bagi petugas promosi kesehatan dan Puskesmas pada umumnya. Berdasarkan hasil survei dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), bahwa 54% Puskesmas di Indonesia hanya mempunyai 1 orang tenaga promosi kesehatan, dan 4% puskesmas sudah mempunyai tenaga promosi kesehatan diatas 5 orang.

Menghadapi hal tersebut sudah pasti Puskesmas harus memiliki strategi yang tepat dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi terkait pencegahan dan penanganan COVID-19. Hasil survei juga menunjukan di era pandemi program utama tenaga promosi kesehatan dibagi menjadi 3 yaitu: melakukan sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan dan penanganan COVID-19 salah satunya dengan metode 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), membuat materi tentang pencegahan COVID-19 untuk dipasang di Puskesmas dan di wilayah kerja, membentuk satuan tugas (SATGAS) penanganan COVID-19 di tingkat Kecamatan, Desa/Kelurahan, RT/RW.

“Berbagai hal sudah kami optimalkan dalam pemberian promosi kesehatan di Puskesmas. Selain itu, kami selalu melakukan kebijakan yang ada termasuk pembentukan SATGAS COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas.” ujar dr. Ratna Ikawati, seorang dokter dan sekaligus Kepala Puskesmas Kasihan 1 Bantul Yogakarta saat pelaksanaan fieldtrip pelayanan Puskesmas di masa pandemi pada tanggal 24 Februari 2021. Tegasnya lagi “untuk mengantisipasi kecolongan pengunjung positif Covid, pihak kami melakukan screening ketat dan memisahkan orang dengan keluhan batuk langsung kami arahkan ke poli batuk untuk ditangani.”

BACA JUGA  Prof Yusril Beri Penjelasan Instruksi Mendagri No 6 Tahun 2020 Dan Pemberhentian Kepala Daerah

Pada kenyataannya Puskesmas masih kewalahan dalam memberikan promosi kesehatan dan pelaksanaan program-program yang direncanakan pemerintah. Hal tersebut dibenarkan oleh dr. Ratna “Dalam pelaksanaannya banyak dari program promosi kesehatan kami yang tidak bisa berjalan dengan baik di dalam maupun luar Puskesmas mengingat tenaga promosi kesehatan kami yang kurang dan masih banyak program yang harus di prioritaskan.” Sungguh ini bukan perkara mudah bukan? Pada masa pandemi semua program promosi kesehatan difokuskan untuk pencegahan dan penanganan COVID-19, bukan berarti Puskesmas dapat mengesampingkan kegiatan promosi kesehatan yang lain.

Semestinya program promosi kesehatan Puskesmas harus dapat berjalan sesuai rencana seperti: promosi kesehatan terkait penyakit wabah (Demam Berdarah, Malaria, Diare, ISPA, dsb), promosi terkait kesehatan lingkungan (PHBS), permberdayaan ibu dan anak, Germas, dsb. Jika program promosi kesehatan tidak berjalan dengan bagus, sudah dapat dipastikan Puskesmas akan menghadapi persoalan dan beban lebih dari penyebaran COVID-19.

BACA JUGA  “Idul Fitri Lebaran Kita”

Di era industri 4.0 ini pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi harus sangat dioptimalkan dalam segala aspek. Sebagai salah satu contoh, strategi promosi kesehatan yang dilakukan oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia yang memanfaatkan media sosial sebagai media untuk melakukan promosi kesehatan. Melalui platform media sosial: Facebook, Youtube, Instagram dan Whatsapp group. Mereka sukses menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui fitur live streaming dan live broadcast. Melihat keberhasilan tersebut sebaiknya Puskesmas mampu mengikuti langkah inovatif dari mahasiswa dalam melakukan promosi kesehatan. Selain hemat biaya, media sosial merupakan sarana efektif dalam menyebarkan informasi, sebab di jaman sekarang sosial media sudah termasuk kebutuhan bagi masyarakat.

Ini sungguh merupakan beban berat Puskesmas ditengah carut marutnya situasi pandemi Puskesmas sebagai primary health care (PHC). Puskesmas sebagai lembaga layanan kesehatan paling pertama di masyarakat harus bisa mengeluarkan usaha yang lebih keras lagi demi tercapainya semua indikator yang menjadi program Puskesmas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.