Sekularisme, Kekuasaan Terpisah Dari Al-Quran

0
142

Jakarta, MuaraIndonesia.com – Dikutip dari tempo.co (1 Juli 2019), Setara Institute merilis survei pola beragama mahasiswa di 10 perguruan tinggi negeri. Hasilnya, Setara menemukan bahwa cukup banyak mahasiswa yang menginginkan sebuah negara bercorak keagamaan.

“Kalau di skor 1 sampai lima, maka rata-rata 3,09 responden menginginkan negara bercorak norma agama,” kata peneliti Setara Institute Noryamin Aini, di Jakarta, Ahad, 30 Juni 2019.

Dosen Universitas Islam Negeri Jakarta ini mengatakan, merujuk pada angkat tersebut, keinginan responden menjadikan agamanya lebih terlembaga, lebih terakomodir dalam tata kehidupan politik formal cukup tinggi.

Ternyata penilaian publik terhadap kehidupan bernegara saat ini memang cukup kritis. Dunia yang sudah saling terhubung satu sama lain membuka mata pikiran mereka bahwa ada problem dalam kehidupan bernegara berawal dari hal paling mendasar tentang dasar politik bernegara: sekularisme, sosial komunis dan islam.

BACA JUGA  Apa Beda Startup dengan Perusahaan Biasa

Tulisan dibawah ini mewakili pandangan islam tentang dampak kekuasaan yang terpisah dari Al-Qur’an.

Islam adalah agama paripurna. Tak ada satu pun bidang kehidupan umat manusia yang tidak diatur oleh syariah Islam. Syariah Islam mengatur tatacara ibadah, akhlak, makanan dan minuman, berpakaian, muamalah hingga politik dan bernegara.

Demikianlah kesempurnaan Islam. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian (TQS al-Maidah [5]: 3).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat ini dengan menyempurnakan agama ini untuk mereka. Mereka tidak membutuhkan lagi agama selain Islam dan nabi selain nabi mereka (Muhammad saw.). Karena itu Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Allah mengutus beliau kepada manusia dan jin. Tidak ada perkara yang halal melainkan apa yang telah beliau halalkan. Tidak ada perkara yang haram melainkan apa yang telah beliau haramkan. Tidak ada agama melainkan yang telah beliau syariatkan.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 3/26).

BACA JUGA  Tatanan Baru Hidup Bersama Covid-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.