AYA SOFYA : KETIDAKJUJURAN DUNIA TEREKSPOS !

0
153

New York, MuaraIndonesia.com, Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Pasca keputusan pengadilan Turki untuk memberikan kebebasan bagi pemerintah Turki untuk mengkonversi (tepat ya reversi) gedung Hagia Sophia dari sebuah musium ke sebuah masjid kembali dunia ramai membincangkan. Dari beberapa Kepala negara, UNESCO, hingga ke tokoh-tokoh agama dunia ramai membicarakan.

Saya tidak akan lagi membahas perspektif legal, baik pada tataran hukum positif maupun pada aspek syariahnya. Justeru yang ingin saya bahas kali ini adalah sikap dunia dalam menyikapi isu semacam ini yang memang timbul dari masa ke masa.

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan sebuah artikel dengan judul “Toleransi yang berpihak”. Nampaknya reversi Hagia Sophia kembali membuka tabir realita itu. Bahwa seringkali toleransi dimaknai sebagai toleransi untuk “serving our interest”. Seolah toleransi itu dimaknai secara positif ketika berpihak kepada kepentingan pihak tertentu.

BACA JUGA  Erdogan: Kebangkitan Hagia Sophia satu langkah pertama dibebaskannya Masjid al-Aqsa

Sebaliknya ketika toleransi harus ditegakkan karena memang menjadi hak orang lain, konsep itu dibalik sebagai intoleransi. Bahkan tidak malu-malu dibalik menjadi tendensi radikal. Ketika seseorang atau sekelompok membela haknya, tidak jarang orang atau kelompok tersebut dilabel “ekstremis”.

Inilah sesungguhnya yang kembali terekspos ketika pemerintah Turki memutuskan untuk mereversi fungsi gedung Hagia Sophia menjadi kembali menjadi masjid setelah sekian tahun masjid tersebut dijadikan musium oleh si sekuler Kemal Ataturk.

Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa jika memang ada ketidak benaran dalam proses konversi ini, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai justifikasi atau membenarkan yang salah. Justeru yang ingin saya bahas adalah ketidak jujuran atau kemunafikan simpan dunia dalam menyikapinya.

BACA JUGA  Foto-Foto Masjid Biru dan Hagia Sophia

Pengalihan fungsi gedung dari fungsi musium ke fungsi rumah ibadah (masjid) begitu ramai dibicarakan, bahkan dengan terang-terangan ditentang bahkan dianggap menjadi bagian dari wajah negatif Umat bahkan agama Islam itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.