BABEL, MENARA GADING

Sebuah Satir

0
496

“Bangka Belitung (Babel) kini jadi menara gading. Kepulauannya indah, buminya kaya. Mengandung kekayaan tak ternilai harganya. Kini bukanlah apa-apa. Ia hanya undukan pasir berlian yang berkerlip menyilaukan mata. Sementara para penyamun menyerbu dan menaklukkannya. Mereka mendirikan kartel kecil tapi besar. Sebuah kampiun dan imperium baru yang telah merubah Babel menjadi menara gading.

MuaraIndonesia.com, Oleh: Safari Ans. (Wartawan Senior dan Penulis)

Selesai sudah rapat maha penting pada Jumat itu di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Peserta rapat itu belum juga pulang, walau acara penting telah usai. Dua jam lalu. Mentari pun telah lenyap ditelan bumi. Azhan Maghrib pun berkumandang merdu. Ada lima pria masih saja belum beranjak dari tempat duduknya. Mereka masih berkisah. Berkisah tentang daerahnya. Kampung halamannya yang kini jadi menara gading. Indah dan nyaman dipandang, tetapi menyimpan rahasia selubung yang mengerikan.

Tak lama kemudian, adik seorang bekas Ketua KPK itu dan seorang bekas Direktur Utama PT Timah Tbk meninggalkan tiga teman lainnya yang masih asyik mengurai cerita. Melihat wajah ketiga terakhir yang sedang duduk itu seakan berbisik, takut percakapannya didengar orang lain yang lalu lalang seputar mereka. Tapi mereka tidak memperdulikannya. Nasib kampung mereka yang penting dituntaskan petang itu juga.

BACA JUGA  LADA BABEL TERBAIK DI DUNIA

Dua orang wartawan senior dan seorang profesor itu masih bicara penuh semangat. Sesekali terdengar teriakan agar kekuatan menara gading runtuh. Terdengar kata-kata, “masak sih penyamun ini tidak bisa diusir”. Sekuat itukah mereka. Sehebat itukah mereka para penyamun membungkam segerombolan pasukan bersenapan yang bukan tentara. Sehebat itukah mereka membina dan membinasakannya. Seakan cengkraman para penyamun begitu kuat, sehingga penduduk kampung halaman profesor dan dua wartawan tadi susah bernafas.

Sang profesor sadar kini Babel telah berubah. Dua wartawan tadi sepertinya sepakat memaknai situasi Babel hanyalah menara gading. Di Jakarta pun, dua jenderal sedang bersalaman. Seakan mereka kompak akan membuat perhitungan bagi para perompak yang telah lama mencengkram Babel. Babel sejak dulu memang dikenal sebagai sarang kaum perompak. Kaum Lanun. Kaum penguasa lautan. Kini lebih dahsyat lagi, tak hanya laut, tapi daratan Babel juga telah dihuni oleh kaum perompak. Dulu senjata mereka hanya tombak, keris, dan badik. Kini senjata mereka senapan mesin dan low. “LOW”. Aturan, peraturan, undang-undang yang jauh lebih dahsyat untuk membuat manusia menjadi tak berdaya. Karena hanya LOW mereka yang benar. Sayang low tidak jualannya di supermarket atau di toko online. 

BACA JUGA  Dari Webinar IKMB Seri 1 Wirausaha : Strategi Darurat Cash Flow Bagi UMKM

Kalau low sudah dipasarkan di toko online pada Covid-19 ini, barangkali menjadi barang dagangan paling laris. Harga low tak terbatas. Bisa mahal, bisa murah, tergantung merek low. Kalau low RIP sepertinya mahal. Kalau low minerba juga mahal, tapi sudah laku. Sudah dibeli dan sudah milik orang sejak 12 Juni 2020. Low itu berisi bahwa semua kekayaan Babel bukan milik Babel lagi tetapi sudah milik imperium. Hak Babel mengolah kekayaan alamnya telah dibawa ke Jakarta, karena sudah menjadi milik imperium. Mahal harga low minerba. Tapi apa boleh buat sudah dibeli orang. Itulah resikonya kalau low sudah masuk pasar online. Yang beli bisa orang dari mana saja. Malah pembelinya misterius.

BACA JUGA  SKENARIO TIONGKOK KUASAI BABEL?

Low penyamun di Babel, berbunyi orang salah harus dibenarkan, dan orang benar harus disalahkan. Penduduk pun takut berbuat, takut salah dan takut ditangkap. Karena low penyamun tidak ada ampun bagi penduduk. Penduduk kampung harus tunduk pada penyamun dan perompak. Mereka telah menjadi kartel mirip seperti kartel narkoba di Mexico. Tak ada lagi logika hukum di sana. Mereka berbuat sesuka hati menakuti penduduk setempat. Mereka bebas menangkap dan menyandera siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.