BABEL, HARAPAN TERAKHIR DUNIA

0
3110

MuaraIndonesia.com, Oleh: Safari Ans (Staf Khusus Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bidang Percepatan Pembangunan)

“Sebentar lagi minyak hanya akan jadi tinggal kenangan. Dunia industri teknologi dan otomotif akan beralih ke listrik yang dihasilkan batarai yang bisa bertahan lama. Material teknologi tinggi dunia itu membutuhkan Logam Tanah Jatang (Logam Babel) untuk memproduksi hi-tech industri. Kini diketemukan cadangan terbesar di dunia, ada di bumi Bangka Belitung (Babel). Provinsi ini akan menjadi harapan terakhir setelah Tiongkok habis logam langka yang kini menguasi 97% REE (Rare Earth Element) dunia.”

Diam-diam Kementerian ESDM Republik Indonesia telah melakukan riset sebagai kompilasi dari berbagai riset tentang “Kajian Potensi Mineral Ikutan Pada Pertambangan Timah”. Riset itu tidak untuk dipublikasikan ke masyarakat umum. Tetapi riset tahun 2017 itu telah diterbitkan dengan ISBN: 978-602-0836-28-7. Rahasia Babel itu diungkapkan tuntas oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi ESDM Kementerian ESDM.

Kajian itu diketuai oleh Kepala Bidang Kajian Strategis Suyono dengan narasumber Prof Riset Siti Tichani M.Sc dan  Ir Nuryadi Saleh, M.T keduanya dari Puslitbang tekMira (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara). Dan Erman dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

BACA JUGA  Dari Webinar IKMB Seri 1 Wirausaha : Strategi Darurat Cash Flow Bagi UMKM

Dalam kajian ini tidak menggunakan istilah Mineral Tanah Jarang (MTJ), tetapi menggunakan sebutan Logam Tanah Jarang (LTJ). Keduanya mengandung makna yang sama dari terjemahan Rare Earth Mineral. Rare Earth Mineral diolah menjadi Rare Earth Element (REE).

Kajian itu mencatat bahwa perkembangan teknologi yang makin pesat tidak terlepas dari dukungan logam-logam yang bernilai tinggi dalam pembuatannya. Indonesia dinilai memiliki logam-logam yang sangat penting untuk industri strategis masa depan. Unsur-unsur yang langka ini tersebar di pulau Sumatera yakni di Bangka dan Belitung. Di pulau Kalimantan Barat dan Tengah, pulau Sulawesi dan pulau Papua dengan perkiraan total potensi menurut Kementerian ESDM mencapai 1,5 miliar ton (ESDM, 2015).

Di Babel menurut kajian itu, tailing (material bekas tambang timah) yang ada di Babel terdapat volume endapan mencapai lebih dari 16,6 miliar kubik. Dengan asumsi yang sangat kecil 0,0023% saja, paling tidak terdapat 383.000 ton LTJ. Jika asumsi ditingkatkan paling tidak LTJ yang di-recovered sekitar 5% dari volume awal, maka ada sekitar 833.230.000 ton LTJ di Babel yang dapat diolah menjadi REE.

BACA JUGA  BABEL, MENARA GADING

Sedangkan di pulau Kalimantan dan pulau Sulawesi endapan LTJ yang ada adalah endapan LTJ laterit dengan volume masing-masing mencapai 1.928.640 ton dan 1.515.056 ton. Dengan menggunakan rasio estimasi yang sangat kecil terhadap volume yang ada sekitar 0,0114% untuk Kalimantan dan 0,0292% untuk Sulawesi, maka jumlah LTJ yang dapat diolah sekitar 229 ton (Kalimantan) dan 443 ton (Sulawesi).

Akan tetapi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang melakukan dengan metode hitung yang berbeda tahun 1989 hingga 1998 mencatatkan volume monasit di sekitar Kalimantan Barat (Kalbar) mencapai 2,2 juta ton dengan persentase LTJ mencapai 60,88%. Jika menggunakan angka ini, maka jumlah minimal LTJ yang dapat diperoleh sekitar 133 juta di pulau Kalimantan. 

Tentu saja angka itu jauh berbeda dengan angka yang dikeluarkan Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2014, yakni hanya 229 ton volume LTJ dapat diperoleh di pulau Kalimantan. Perbedaan cara hitung perlu dirumuskan bersama. Kecuali cadangan monasit di Babel tidak perlu diragukan lagi. Cadangan monasit di Babel dipastikan berlimpah walau dengan metode hitung apapun, tak ada yang meragukannya.

BACA JUGA  LADA BABEL TERBAIK DI DUNIA

Dari ke-17 unsur logam tanah jarang yang ada di Indonesia saat ini (entah besok), 6 diantaranya sangat diperlukan untuk pengembangan kendaraan listrik yang akan menjadi kendaraan masa depan umat manusia. Keenam logam itu adalah Lanthanum (La), Cerium (Ce), neodymium (Nd) untuk baterai, praseodymium (Pr), neodymium (Nd), terbium (Tb) dan dysprosium (Dy) untuk generator dan motor listrik.

Dari kajian yang dilakukan Kementerian ESDM, diketahui dua pendekatan untuk meneliti cara mengolah sumber LTJ. Yaitu dengan cara mendapatkan dari hulu penambangan timah dengan kadar yang lebih besar dan biaya lebih murah. Sedangkan cara lain adalah dengan mengambil dari mengolah slag timah dengan kadar yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang pertama dengan biaya yang lebih tinggi.

Menurut kajian itu, dari pengolahan slag, 6 kadar yang tertinggi yang dapat direcovered adalah Cerium (16.400 part per million – ppm), Yttrium (13.900 ppm), Lanthanum (7.470 ppm), Neodymium (6.470 ppm), Dysprosium (2.210 ppm), dan Praseodymium (1.810 ppm). 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.